Thursday, 15 October 2015

Tips Meninggalkan Anak Saat Pergi Bekerja


Tidak ada orang yang senang mengucapkan salam perpisahan, tapi bagi batita, melihat Mama dan Papanya beranjak pergi terasa seperti siksaan  Saat diantarkan ke playgroup, Rio, 3 tahun bersikap tenang sambil menggandeng tangan ibunya. Tapi begitu ibunya pamit untuk berangkat ke kantor, dia mulai menjerit-jerit. “Mama! Mama!” serunya keras dengan mata berkaca-kaca. Tingkahnya seperti anak yang akan dipisahkan selamanya dari sisi sang bunda. “Dia selalu begitu. Sampai suatu hari dia menjerit begitu keras sampai muntah di sekolah,” keluh Rina, ibunya.

Memang kasihan rasanya melihat anak merasa sedih seperti itu. Tapi sebenarnya, perasaan takut berpisah (separation anxiety) adalah hal yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Perasaan takut berpisah sebenarnya adalah bentuk rasa sayang anak terhadap Anda. Dia menginginkan Anda dan perasaan takut berpisah sebenarnya adalah bentuk ikatan di antara Anda berdua. Namun, mungkin Anda juga ingin agar si kecil tak lagi terlalu manja. Berikut kami beberkan beberapa cara-cara praktis untuk mengatasi perasaan takut berpisah.

Jauh di Mata, Dekat di Hati
Memasuki usia sekitar 6 bulan, bayi Anda mulai menyadari bahwa dia dan Anda adalah dua individu yang terpisah. Ini berarti, Anda bisa meninggalkan dia. Si kecil kini juga sudah mampu membangun kemampuan berpikir representatif, yang berarti dia bisa membayangkan suatu objek di dalam kepalanya meskipun objek tersebut tak lagi terlihat mata. Layaknya pepatah, jauh di mata dekat di hati. Inilah sebabnya anak Anda tiba-tiba selalu girang saat bermain ci luk ba. Seiring dengan tahap perkembangan, anak Anda sedang membangun kendali yang kuat terhadap kemandirian. Ironisnya, perkembangan ini justru meningkatkan rasa manjanya terhadap Anda. Sehingga semakin dia tumbuh mandiri, semakin batita Anda berpikir bahwa segalanya terasa menakutkan dan dia tak ingin sendirian.

Memang tidak begitu jelas mengapa sebagian anak bisa melalui fase ini tanpa terlalu kesulitan, sementara yang lain sepertinya merasa sangat ketakutan bila ditinggal sebentar saja. Tapi, Anda tidak perlu khawatir. Karena apapun alasan dan intensitasnya, batita Anda akan melalui fase ini. Meskipun tidak jelas kapan, kebanyakan ahli setuju bahwa periode ini umumnya akan berlalu setelah anak memasuki usia 18 bulan dan 2½ tahun.

Redamkan Rasa Takutnya
Memang wajar bagi Anda untuk merasa bersalah apabila si kecil merasa nelangsa karena harus berjauhan dari Anda. Namun, kemampuan mengatasi rasa kehilangan saat berpisah adalah suatu kecakapan yang penting untuk dikuasai. Tidakkah hidup ini penuh dengan perpisahan? Dengan demikian, ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk belajar mempercayai Anda bahwa Anda pasti akan kembali kepadanya. Berikut adalah beberapa tip untuk membantu Anda mengajarkan mengenai cara mengatasi perasaan takut berpisah:

1. Lambaikan tangan saat mengucapkan selamat tinggal. Ini adalah taktik yang sangat sederhana, bahkan terkesan sepele. Alih-alih takut batitanya berang, orang tua biasanya sering pergi diam-diam dari rumah sebelum si anak terjaga. Ini adalah suatu kesalahan besar. Mungkin Anda tidak menyita banyak waktu demi menenangkan anak yang menangis meraung-raung karena takut berpisah dari Anda, tapi cara ini akan membuat perasaan takutnya menjadi lebih parah. Karena anak akan berpikir bahwa Anda bisa menghilang kapapnpun juga. Sehingga di lain waktu, dia akan mencegah agar Anda tidak pergi lagi dari sisinya.

2. Berlatih di rumah. Mainkan suatu permainan dengan batita Anda yang melibatkan kegiatan ada dan tiada, misalnya seperti ci luk ba, atau petak umpet. Selain itu, ciptakan batasan di rumah sehingga anak akan belajar bahwa dia tidak boleh menempel terus pada Anda selama seharian penuh. Misalnya, jika dia bersikeras ingin dipeluk sementara Anda sedang menyiapkan makan malam, maka angkat dia lalu katakan, “Ayo, naik, naik, naik! Nah, sekarang turun yah.” Katakan hal ini sembari mengangkat tubuhnya lalu mengembalikannya lagi ke bawah. Dengan demikian, Anda telah memberikan apa yang dia mau, yaitu digendong, tapi sekaligus meneruskan kegiatan yang tadi sempat tertunda. Atau, dudukkan dia di ruang bermain dimana dia masih bisa melihat Anda, lalu beri dia beberapa mangkuk dan sendok mainan. Biarkan dia “memasak” bersama Anda.

3. Hindari adu pendapat kala waktu tidur tiba. Waktu tidur adalah masa perpisahan terbesar dalam satu hari. Bila anak Anda tidur 12 jam dalam satu malam, maka berpisah sementara dengan Anda, terlebih dalam kamar yang gelap, akan terasa begitu lama. Maka, ciptakan suatu ritual sebelum tidur yang akan berakhir dengan menidurkan batita Anda di boksnya selama dia masih dalam keadaan terjaga. Jangan bertahan di sana meskipun dia protes. Alih-alih demikian, berdirilah di pintu lalu katakan, “Mama masih di sini. Tapi, ini sudah waktunya tidur, Sayang.”

4. Jangan berlama-lama. Perpisahan terbaik adalah yang dilakukan dengan cepat dan tidak bertele-tele. Senyumlah, lalu katakan, “Mama pergi, ya. Bermainlah dengan Mbak. Mama akan segera kembali.” Kecuplah pipinya lalu bergegaslah pergi. Bila si kecil mulai menjerit-jerit, janganlah terpengaruh. Sebab jika demikian, maka anak akan menggunakan kesempatan ini dan membuat Anda lebih merasa bersalah di kemudian hari. Selain itu, janganlah kembali masuk ke dalam rumah saat Anda sudah keluar, karena hal ini akan membingungkan batita Anda. Nanti dia akan berpikir, “Apakah Mama akan pergi atau tetap di sini? Apakah aku harus bermain dengan Mbak atau tetap berharap Mama akan kembali?”

5. Sibukkan dia. Bila Anda mengantarkan anak ke daycare atau playgroup, tanyakan kepada guru untuk mengantarkan dia mendekati anak-anak lain yang sedang bermain. Bila batita Anda ada di rumah bersama pengasuhnya, kejutkan dia dengan sejumlah mainan yang sudah lama tak dia mainkan, atau minta tolonglah kepada babysitter untuk mengajak anak berjalan-jalan sebelum Anda pergi. Karena adakalanya lebih mudah bagi anak untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Anda dibandingkan sebaliknya.

6. Tinggalkan benda kesayangan bersamanya. Benda kesayangan bisa membantu menenangkan si kecil saat Anda tidak ada. Anda juga bisa memberikan benda yang bisa diasosiasikan dengan Anda, yakni tempat kacamata kosong atau foto keluarga untuk dia pegang sampai Anda kembali. Bahkan beberapa orang tua merekamkan suara mereka saat sedang bernyanyi atau membacakan buku sehingga babysitter bisa memutarkan rekaman tersebut kepada si anak.

Sumber: parentsindonesia.com

No comments:

Post a Comment