Thursday, 15 October 2015

Tips Menghindari Predator Seksual Pada Anak



Apa yang Anda sampaikan, bagaimana cara menyampaikannya, bisa berbeda pada setiap anak, tergantung dari usia dan tahapan perkembangannya. Anda perlu fokus kepada masalah tertentu. Untuk menghindari pelecehan anak usia 2-4 tahun simak tip berikut ini.
Gunakan bahasa yang jelas. 
Tak perlu mengganti istilah-istilah sensitif dengan kata-kata yang lebih halus, kata Robin Sax penulis buku Predators and Child Molester. “Tak apa-apa menyebutkan kata vagina dan penis di rentang usia ini. “Efeknya, anak tak akan bingung dan bisa jadi lebih berani membicarakan kondisi uang berkaitan dengan alat kelaminya sendiri.

Beritahu bagian tubuhnya yang bersifat pribadi. 
Artinya, bagian tubuh tersebut tak boleh disentuh oleh orang lain selain dirinya sendiri, orang tuanya, pengasuh (bila masih mengenakan popok), dan dokternya. Jika ada yang menyentuhnya selain orang-orang tadi, minta anak memberitahu Anda dan katakana bahwa Anda tidak akan marah kepadanya.

Waspadai sentuhan orang tak dikenal. 
Terkadang, orang yang tak dikenal melihat anak Anda kemudian memuji betapa lucunya dia. Tak jarang tindakan itu dibarengi dengan mengusap rambut atau mencubit pipinya. Sekilas, tindakan ini tampak tidak berbahaya. Namun ada baiknya Anda menjelaskan kepada anak bila ada orang tak dikenal menyentuhnya, sebaiknya segera menghindar atau menjauh dari orang tersebut.

Jadilah tempat perlingdungan bagi si kecil. 
Lebih baik utarakan secara jelas kepada anak bahwa ia dapat bercerita apa saja kepada Anda. Termasuk saat ia merasa bingung atau takut akan sesuatu. Tegaskan bahwa Anda akan selalu ada untuk membantu menyayanginya.

Bicarakan hal-hal yang bersifat seksual secara terbuka. 
Misalnya jika suatu hari si kecil yang berusia 4 tahun bertanya darimana datangnya bayi, berikan jawaban yang jujur dan sesuai dengan tingkat pemahamannya. Hindari berkata kepada anak bahwa ia belum cukup umur untuk mengetahui hal seperti itu atau melarangnya bertanya tentang hal-hal tersebut.

Sumber: parentsindonesia.com 

No comments:

Post a Comment